Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

bahasa indonesia

Dari Ejaan van Ophuijsen Hingga EYD
Dari Ejaan van Ophuijsen Hingga EYD
1. Ejaan van Ophuijsen
Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.
a. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
b. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
c. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer, 'akal, ta', pa', dinamai'.
2. Ejaan Soewandi
Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.
a. Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guru, itu, umur.
b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, maklum, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis, dikarang.
3. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.
Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.
1. Perubahan Huruf
 
Ejaan Soewandi Ejaan yang Disempurnakan
dj djalan, djauh J jalan, jauh
j pajung, laju Y payung, layu
nj njonja, bunji ny nyonya, bunyi
sj isjarat, masjarakat Sy isyarat, masyarakat
tj tjukup, tjutji C cukup, cuci
ch tarich, achir kh tarikh, akhir
2. Pemakaian Huruf
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq, Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.
Huruf Diftong Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
ai Ain syaitan Pandai
au Aula saudara Harimau
oi – boikot Amboi

E. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
Gabungan Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf
 
Konsonan Di Awal Di Tengah Di Akhir
Kh khusus akhir Tarikh
Ng ngilu bangun Senang
Ny nyata hanyut –
Sy syarat isyarat Arasy
F. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut
a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
 
Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah
b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Misalnya: ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir
c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya : man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makh-luk
d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya : in-strumen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trik, ikh-las
2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Misalnya : makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

3. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
 
• Dia mengantuk.
 
• Apa maksudnya?
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
 
• Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
• Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
 
• Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
4. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
 
• Mahaputra Yamin
• Sultan Hasanuddin
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
 
• Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
• Tahun ini ia pergi naik haji.
9. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
 
• Asia Tenggara
• Danau Toba
b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
 
• berlayar ke teluk
• pergi ke arah tenggara
c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
 
• gula jawa
• pisang ambon
10. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
 
• Majelis Permusyawaratan Rakyat
• Republik Indonesia
b.Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
 
• kerja sama antara pemerintah dan rakyat
• menjadi sebuah republik
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
 
• Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
• Perserikatan Bangsa-Bangsa
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
 
• Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
• Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
13. huruf capital dipakai sebagai huruf pertama unsure singkatan nama gelar ,pangkat dan sapaan.
Misalnya:
 
• Dr. = doktor
• M.A. = master of arts
14. a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
 
• Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.
• "Silakan duduk, Dik!" kata Ucok.
b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
 
• Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
• Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
15. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
 
• Sudahkah Anda tahu?
• Surat Anda telah kami terima.
B. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
 
• buku Negarakertagama karangan Prapanca
• majalah Bahasa dan Kesusastraan
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
 
• Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital
• Huruf pertama kata abad ialah a.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
 
• Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
• Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
4. Penulisan Kata
A. Kata Dasar
1. Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
 
• Ibu percaya bahwa engkau tahu.
• Kantor pajak penuh sesak.
• Buku itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
 
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
 
• bergeletar
• dikelola
• penetapan
• menengok
• mempermainkan
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
 
• bertepuk tangan
• garis bawahi
• menganak sungai
• sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
 
• menggarisbawahi
• menyebarluaskan
• dilipatgandakan
• penghancurleburan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
 

adipati mahasiswa
aerodinamika mancanegara
antarkota multilateral
anumerta narapidana
audiogram nonkolaborasi
awahama Pancasila
bikarbonat panteisme
biokimia paripurna
caturtunggal poligami
dasawarsa pramuniaga
dekameter prasangka
demoralisasi purnawirawan
dwiwarna reinkarnasi
ekawarna saptakrida
ekstrakurikuler semiprofesional
elektroteknik subseksi
infrastruktur swadaya
inkonvensional telepon
introspeksi transmigrasi
kolonialisme tritunggal
kosponsor ultramodern

Catatan:
1. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
 
• non-Indonesia
• pan-Afrikanisme
2. Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
 
• Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
• Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
C. Kata Ulang
1. Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
 
anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik, huru-hara, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang, bumiputra-bumiputra.
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
 
duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
 
alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, orang-tua muda.
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
 
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam.
E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
 
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
 
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam sajalah di sini.
Di mana Siti sekarang?
5. Penulisan Huruf Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.
1. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I'exploitation de l'homme par I'homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
2. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
6. Kaidah ejaan
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu sebagai berikut.
aa (Belanda) menjadi a
paal
baal
octaaf pal
bal
oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe
aerodinamics aerob
aerodinamika
ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin
haematite hemoglobin
hematit
ai tetap ai
trailer
caisson trailer
kaison
au tetap au
audiogram
autotroph
tautomer
hydraulic
caustic audiogram
autotrof
tautomer
hidraulik
kaustik
c di muka a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel
construction
cubic
coup
classification
crystal kalomel
konstruksi
kubik
kup
klasifikasi
kristal
c di muka e, i, oe, dan y menjadi s
central
cent
cybernetics
circulation
cylinder
coelom sentral
sen
sibernetika
sirkulasi
silinder
selom
cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation
acculturation
acclimatization
accumulation
acclamation akomodasi
akulturasi
aklimatisasi
akumulasi
aklamasi
cc di muka e dan i menjadi ks
accent
accessory
vaccine aksen
aksesori
vaksin
cch dan ch di muka a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin
charisma
cholera
chromosome
technique sakarin
karisma
kolera
kromosom
teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon
machine eselon
mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
check
China cek
Cina
ç (Sanskerta) menjadi s
çabda
çastra sabda
sastra
e tetap e
effect
description
synthesis efek
deskripsi
sintesis
ea tetap ea
idealist
habeas idealis
habeas
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer
systeem stratosfer
sistem
ei tetap ei
eicosane
eidetic
einsteinium eikosan
eidetik
einsteinium
eo tetap eo
stereo
geometry
zeolite stereo
geometri
zeolit
eu tetap eu
neutron
eugenol
europium neutron
eugenol
europium
f tetap f
fanatic
factor
fossil fanatik
faktor
fosil
gh menjadi g
sorghum sorgum
gue menjadi ge
igue
gigue ige
gige
i pada awal suku kata di muka vokal tetap i
iambus
ion
iota iambus
ion
iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek
riem politik
rim
ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety
patient
efficient varietas
pasien
efisien
kh (Arab) tetap kh
khusus
akhir khusus
akhir
ng tetap ng
contingent
congress
linguistics kontingen
kongres
linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e
oestrogen
oenology
foetus estrogen
enologi
fetus
oo (Belanda) menjadi o
cartoon
proof
pool kartun
pruf
pul
oo (vokal ganda) tetap oo
zoology
coordination zoologi
koordinasi
ou menjadi u jika lafalnya u
gouverneur
coupon
contour gubernur
kupon
kontur
ph menjadi f
phase
physiology
spectograph fase
fisiologi
spektograf
ps tetap ps
pseudo
psychiatry
psychosomatic pseudo
psikiatri
psikosomatik
pt tetap pt
pterosaur
pteridology
ptyalin pterosaur
pteridologi
ptialin
q menjadi k
aquarium
frequency
equator akuarium
frekuensi
ekuator
rh menjadi r
rhapsody
rhombus
rhythm
rhetoric rapsodi
rombus
ritme
retorika
sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium
scotapia
scutella
sclerosis
scriptie skandium
skotapia
skutela
sklerosis
skripsi
sc di muka e, i, dan y menjadi s
scenography
scintillation
scyphistoma senografi
sintilasi
sifistoma
sch di muka vokal menjadi sk
schema
schizophrenia
scholasticism skema
skizofrenia
skolastisisme
t di muka i menjadi s jika lafalnya s
ratio
action
patient rasio
aksi
pasien
th menjadi t
theocracy
orthography
thiopental
thrombosis
methode teokrasi
ortografi
tiopental
trombosis
metode
u tetap u
unit
nucleolus
structure
institute unit
nukleolus
struktur
institut
ua tetap ua
dualisme
aquarium dualisme
akuarium
ue tetap ue
suede
duet sued
duet
ui tetap ui
equinox
conduite ekuinoks
konduite
uo tetap uo
fluorescein
quorum
quota fluoresein
kuorum
kuota
uu menjadi u
prematuur
vacuum prematur
vakum
v tetap v
vitamin
television
cavalry vitamin
televisi
kavaleri
x pada awal kata tetap x
xanthate
xenon
xylophone xantat
xenon
xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive
taxi
exudation
latex eksekutif
taksi
eksudasi
lateks
xc di muka e dan i menjadi ks
exception
excess
excision
excitation eksepsi
ekses
eksisi
eksitasi
xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation
excommunication
excursive
exclusive ekskavasi
ekskomunikasi
ekskursif
eksklusif
y tetap y jika lafalnya y
yakitori
yangonin
yen
yuan yakitori
yangonin
yen
yuan
y menjadi i jika lafalnya i
yttrium
dynamo
propyl
psychology itrium
dinamo
propil
psikologi
z tetap z
zenith
zirconium
zodiac
zygote zenith
zirkonium
zodiak
zigot
7. Konsonan ganda
Konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan.
Misalnya:
gabbro
accu
effect
commision
ferrum
solfeggio gabro
aki
efek
komisi
ferum
solfegio
tetapi:
mass massa
Catatan
1. Unsur pungutan yang sudah lazim dieja secara Indonesia tidak perlu lagi diubah
 
Misalnya: kabar, sirsak, iklan, perlu, bengkel, hadir.
Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu digunakan dalam penggunaan tertentu saja seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.
8. Akhiran asing
Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh.
Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.

-aat (Belanda) menjadi -at
advokaat advokat
-age menjadi -ase
percentage
etalage persentase
etalase
-al, -eel (Belanda) menjadi -al
structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal struktural
formal
normal
-ant menjadi -an
accountant
informant akuntan
informan
-ary, -air (Belanda) menjadi -er
complementary, complementair
primary, primair
secondary, secundair komplementer
primer
sekunder
-(a)tion, -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si
action, actie
publication, publicatie aksi
publikasi
-eel (Belanda) menjadi -el
ideëel
materieel
moreel ideel
materiel
morel
-ein tetap -ein
casein
protein kasein
protein
-ic, -ics, -ique, -iek, -ica (Belanda) menjadi -ik, -ika
logic, logica
phonetics, phonetiek
physics, physica
dialectics, dialektica
technique, techniek logika
fonetik
fisika
dialektika
teknik
-ic, -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik
electronic, electronisch
mechanic, mechanisch
ballistic, ballistisch elektronik
mekanik
balistik
-ical, -isch (Belanda) menjadi -is
economical, economisch
practical, practisch
logical, logisch ekonomis
praktis
logis
-ile, iel menjadi -il
percentile, percentiel
mobile, mobiel
 
-ism, -isme (Belanda) menjadi -isme
modernism, modernisme
communism, communisme modernisme
komunisme
-ist menjadi -is
publicist
egoist publisis
egois
-ive, -ief (Belanda) menjadi -if
descriptive, descriptief
demonstrative, demonstratief deskriptif
demonstratif
-logue menjadi -log
catalogue
dialogue katalog
dialog
-logy, -logie (Belanda) menjadi -logi
technology, technologie
physiology, physiologie
analogy, analogie teknologi
fisiologi
analogi
-loog (Belanda) menjadi -log
analoog
epiloog analog
epilog
-oid, -oide (Belanda) menjadi -oid
hominoid, hominoide
anthropoid, anthropoide hominoid
anthropoid
-oir(e) menjadi -oar
trottoir
repertoire trotoar
repertoar
-or, -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir
director, directeur
inspector, inspecteur
amateur
formateur direktur
inspektur
amatir
formatur
-or tetap -or
dictator
corrector diktator
korektor
-ty, -teit (Belanda) menjadi -tas
university, universiteit
quality, qualiteit universitas
kualitas
-ure, -uur (Belanda) menjadi -ur
structure, struktuur
premature, prematuur struktur
prematur
Diposkan oleh Dwi Aji Sapto di 16:16 




Dari Ejaan van Ophuijsen Hingga EYD


1. Ejaan van Ophuijsen


Pada tahun 1901 ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin, yang disebut Ejaan van Ophuijsen, ditetapkan. Ejaan tersebut dirancang oleh van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma'moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Hal-hal yang menonjol dalam ejaan ini adalah sebagai berikut.


a.   Huruf j untuk menuliskan kata-kata jangpajahsajang.
b.   Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroeitoeoemoer.
c.   Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma'moer'akalta'pa'dinamai'.


2. Ejaan Soewandi


Pada tanggal 19 Maret 1947 ejaan Soewandi diresmikan menggantikan ejaan van Ophuijsen. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan ejaan Republik. Hal-hal yang perlu diketahui sehubungan dengan pergantian ejaan itu adalah sebagai berikut.


a.   Huruf oe diganti dengan u, seperti pada guruituumur.
b.   Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada kata-kata takpakmaklumrakjat.
c.   Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti anak2ber-jalan2ke-barat2-an.
d.   Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti kata depan di padadirumahdikebun, disamakan dengan imbuhan di- pada ditulis,dikarang.


3. Ejaan Melindo


Pada akhir 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.


4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan


Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.


Karena penuntun itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972 (Amran Halim, Ketua), menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.


Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan surat Putusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987.


Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan adalah sebagai berikut.

1. Perubahan Huruf 
Ejaan Soewandi
Ejaan yang Disempurnakan
dj
djalan, djauh
j
jalan, jauh
j
pajung, laju
y
payung, layu
nj
njonja, bunji
ny
nyonya, bunyi
sj
isjarat, masjarakat
sy
isyarat, masyarakat
tj
tjukup, tjutji
c
cukup, cuci
ch
tarich, achir
kh
tarikh, akhir


2. Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.

f
maaf, fakir
v
valuta, universitas
z
zeni, lezat


3. Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai


a : b = p : q
Sinar-X


4. Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau kesebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.

di- (awalan)
di (kata depan)
ditulis
di kampus
dibakar
di rumah
dilempar
di jalan
dipikirkan
di sini
ketua
ke kampus
kekasih
ke luar negeri
kehendak
ke atas


5. Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.


anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat


Sumber: Cermat Berbahasa Indonesia, Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai

Selasa, 18 Oktober 2011

tugas structure


Name       : Wahyu julianto
NM            : A 320110043
Class         : B

Ø Definition About Noun, Verb, and Adverb.

A.  Noun
Noun is a word that can become subject or object.
Kinds of  Noun :
1)      Concrete Noun ( kata benda yang berwujud)
It is a noun that can be seen and can be touch.
examples :
                                                        i.            Henry is clever.
                                                      ii.            The table is broke.
                                                    iii.            I buy a new hat.
                                                    iv.            She has two cars.
                                                      v.            We make a big cake.
Concrete noun consist of 4 kinds, there are :
ü  Proper Noun
A noun that must be write a capital letter at first word.
Usually it is a name, town, country, school, and other place.
Examples :
a)      Lisa is a student.
b)      I went to Jogjakarta last week.
c)      I study at Harvard University.
d)      We will go to Singapore.
e)      Andy is a good boy.
ü  Common Noun
A noun that regular.
a)      He is a teacher.
b)      I will buy a book.
c)      Please lend me a pen.
d)      I kick the ball.
e)      He is a doctor.


ü  Material Noun
A noun that come from mining and standard material
Examples :
a)      We get a new gold mine.
b)      Taufik Hidayat got silver medallion in Olimpiade.
c)      Indonesia has a lot of oil mine.
d)      A cable made of from copper and rubber.
e)      Indonesia have a lot of forest.
ü  Collective Noun
A noun that have compound meaning
Examples :
a)      The flock are seeking a food.
b)      The parlement have a meeting.
c)      The division have training in the forest.
d)      The committee have breakfast together.
e)      Good morning class.
2)      Abstract Noun ( kata benda yang tak berwujud )
It is a noun that can’t be seen and cant be touch.
Contoh :
                                                        i.            A national culture must we safe.
                                                      ii.            The law in Indonesia is good.
                                                    iii.            We must have good attitudes.
                                                    iv.            We must obedient with this regulations.
                                                      v.            The norm is very important.
3)      Countable Noun
A Noun that can be count. Countable noun can be divide to two kinds, there are :
a.       Singular (not more than one)
Examples :
                                                                                i.            He cross a river.
                                                                              ii.            He writes a letter.
                                                                            iii.            He reads a book.
                                                                            iv.            He buys a pen.
                                                                              v.            She jus study for a month.
b.      Plural ( more than one )
Examples :
                                                                                i.            She has five books.
                                                                              ii.            The room just has six tables.
                                                                            iii.            They buy seven bananas.
                                                                            iv.            I have two sisters.
                                                                              v.            She has two pens.
4)      Uncountable Noun
A noun that can’t be count, so we need measurement, pair of scales, meter, etc


Examples :
                                                        i.            I want a cup of coffee.
                                                      ii.            We need a piece of chalk.
                                                    iii.            He buys a bottle of water.
                                                    iv.            He eats a loaf of bread.
                                                      v.            He buys one kilo of sugar.

B.   Adverbs
An adverb is a part of speech. It is any word that modifies verbs or any part of speech other than a noun (modifiers of nouns are primarily adjectives and determiners). Adverbs can modify verbs, adjectives (including numbers), clauses, sentences, and other adverbs.
Adverbs typically answer questions such as how?, in what way?, when?, where?, and to what extent?. This function is called the adverbial function, and is realized not just by single words (i.e., adverbs) but by adverbial phrases and adverbial clauses.
Adverbs in English
Adverbs are words like slowly, tomorrow, now, soon and suddenly. An adverb usually modifies a verb or a verb phrase. It provides information about the manner, place or circumstances of the activity denoted by the verb or verb phrase.
  • She walked slowly. (Here the adverb slowly shows the manner in which she walked.)
  • The kids are playing upstairs. (Here the adverb upstairs provides information about the place of the activity.)
  • I did this
Adverbs can also modify adjectives and other adverbs.
  • You are quite right. (Here the adverb quite modifies the adjective right.)
  • She spoke quite loudly. (Here the adverb quite modifies another adverb – loudly.)
  • She was beautiful.( beautiful is adjective )
  • This bag so heavy. ( heavy is adjective )
  • He is clever.
Most adverbs are formed by adding –ly to adjectives. There are also adverbs that do not end with –ly:
  1. The athlete ran very fast so that he could set a new record.
  2. Asiyah worked hard to help her family.
  3. The students came late for the seminar.
  4. My sister performed well in the examination.

There are very many kinds of adverbs. Examples are: adverbs of manner, adverbs of frequency, adverbs of time, adverbs of place, adverbs of certainty etc.
In English, adverbs of manner (answering the question how?) are often formed by adding -ly to adjectives. For example, great yields greatly, and beautiful yields beautifully. (Note that some words that end in -ly, such as friendly and lovely, are not adverbs, but adjectives, in which case the root word is usually a noun. There are also underived adjectives that end in -ly, such as holy and silly.)
The suffix -ly is related to the German word Leiche, which means "corpse". (There is also an obsolete English word lych or lich with the same meaning.) Both words are also related to the word like. The connection between -ly and like is easy to understand. The connection to lich is probably that both are descended from an earlier word that meant something like "shape" or "form".[1] The use of like in the place of -ly as an adverb ending is seen in Appalachian English, from the hardening of the ch in "lich" into a k, originating in northern British speech.
In this way, -ly in English is cognate with the common German adjective ending -lich, the Dutch ending -lijk, the Dano-Norwegian -lig and Norwegian -leg. This same process is followed in Romance languages with the ending -mente, -ment, or -mense meaning "of/like the mind".
In some cases, the suffix -wise may be used to derive adverbs from nouns. Historically, -wise competed with a related form -ways and won out against it. In a few words, like sideways, -ways survives; words like clockwise show the transition. Again, it is not a foolproof indicator of a word being an adverb. Some adverbs are formed from nouns or adjectives by prepending the prefix a- (such as abreast, astray). There are a number of other suffixes in English that derive adverbs from other word classes, and there are also many adverbs that are not morphologically indicated at all.
Comparative adverbs include more, most, least, and less (in phrases such as more beautiful, most easily etc.).
The usual form pertaining to adjectives or adverbs is called the positive. Formally, adverbs in English are inflected in terms of comparison, just like adjectives. The comparative and superlative forms of some (especially single-syllable) adverbs that do not end in -ly are generated by adding -er and -est (She ran faster; He jumps highest). Others, especially those ending -ly, are periphrastically compared by the use of more or most (She ran more quickly) -- while some accept both forms, e.g. oftener and more often are both correct. Adverbs also take comparisons with as ... as, less, and least. Not all adverbs are comparable; for example in the sentence He wore red yesterday it does not make sense to speak of "more yesterday" or "most yesterday".
Adverbs as a "catch-all" category
Adverbs are considered a part of speech in traditional English grammar and are still included as a part of speech in grammar taught in schools and used in dictionaries. However, modern grammarians recognize that words traditionally grouped together as adverbs serve a number of different functions. Some would go so far as to call adverbs a "catch-all" category that includes all words that do not belong to one of the other parts of speech.
A more logical approach to dividing words into classes relies on recognizing which words can be used in a certain context. For example, a noun is a word that can be inserted in the following template to form a grammatical sentence:
The _____ is red. (For example, "The hat is red".)
When this approach is taken, it is seen that adverbs fall into a number of different categories. For example, some adverbs can be used to modify an entire sentence, whereas others cannot. Even when a sentential adverb has other functions, the meaning is often not the same. For example, in the sentences She gave birth naturally and Naturally, she gave birth, the word naturally has different meanings. Naturally as a sentential adverb means something like "of course" and as a verb-modifying adverb means "in a natural manner". This "naturally" distinction demonstrates that the class of sentential adverbs is a closed class (there is resistance to adding new words to the class), whereas the class of adverbs that modify verbs isn't.
Words like very and particularly afford another useful example. We can say Perry is very fast, but not Perry very won the race. These words can modify adjectives but not verbs. On the other hand, there are words like here and there that cannot modify adjectives. We can say The sock looks good there but not It is a there beautiful sock. The fact that many adverbs can be used in more than one of these functions can confuse this issue, and it may seem like splitting hairs to say that a single adverb is really two or more words that serve different functions. However, this distinction can be useful, especially considering adverbs like naturally that have different meanings in their different functions. Huddleston distinguishes between a word and a lexicogrammatical-word.[2]
The category of adverbs into which a particular adverb falls is to some extent a matter of convention; and such conventions are open to challenge as English evolves. A particular category-breaking use may spread after its appearance in a book, song, or television show and become so widespread that it is eventually acknowledged as acceptable English.[citation needed] For example, "well" traditionally falls in a category of adverb that excludes its use as a modifier of an adjective, except where the adjective is a past-participle adjective like "baked". However, imitating characters in television shows,[citation needed] a growing number of English speakers (playfully or even without reflection[citation needed]) use "well" to modify non-past-participle adjectives, as in "That is well bad!" It is possible that this usage will one day become generally accepted. Similarly, other category-breaking uses of adverbs may, over time, move some English adverbs from a restricted adverbial class to a less-restricted one.[citation needed]
Not is an interesting case. Grammarians have a difficult time categorizing it, and it probably belongs in its own class[3][4]
Equative Adverb i. Used to describe the similarities between 2 objects or people ii. (E.g)
The part of speech (or word class) that describes an action or occurrence or indicates a state of being.
There are two main classes of verbs: (1) the large open class of lexical verbs (also known as main verbs or full verbs--that is, verbs that aren't dependent on other verbs); and (2) the small closed class of auxiliary verbs (also called helping verbs). The two subtypes of auxiliaries are the primary auxiliaries (be, have, and do), which can also act as lexical verbs, and the modal auxiliaries (can, could, may, might, must, ought, shall, should, will, and would).

C.  Verb
Verb is The part of speech (or word class) that describes an action or occurrence or indicates a state of being.
There are two main classes of verbs: (1) the large open class of lexical verbs (also known as main verbs or full verbs--that is, verbs that aren't dependent on other verbs); and (2) the small closed class of auxiliary verbs (also called helping verbs). The two subtypes of auxiliaries are the primary auxiliaries (be, have, and do), which can also act as lexical verbs, and the modal auxiliaries (can, could, may, might, must, ought, shall, should, will, and would).
Verbs and verb phrases usually function as predicates. They can display differences in tense, mood, aspect, number, person, and voice. See "Observations," below.
See also: Notes on Verbs and Verb Phrase.
We say that a verb is a part of speech (or word class) that describes an action or occurrence or indicates a state of being. Generally, it makes more sense to define a verb by what it does than by what it is. Just as the "same" word (rain or snow, for example) can serve as either a noun or a verb, the same verb can play a number of different roles depending on how it's used.
Put simply, verbs move our sentences along in a variety of ways.
Here, by identifying 10 types of verbs, we'll briefly consider some of their more common functions as well. For additional examples and more detailed explanations of these verb forms and functions, follow the links to our Glossary of Grammatical and Rhetorical Terms.

  • Auxiliary Verbs and Lexical Verbs
    An auxiliary verb (also know as a
    helping verb) determines the mood or tense of another verb in a phrase. The primary auxiliaries are be, have, and do. The modal auxiliaries include can, could, may, must, should, will, and would.
    Examples :
                                i.            It will rain tonight.
                              ii.            I can help him.
                            iii.            You must go to hospital.
                            iv.            I could do this examination.
                              v.            You may become a good man.
A lexical verb (also known as a full or main verb) is any verb in English that isn't an auxiliary verb: it conveys a real meaning and doesn't depend on another verb.
Examples :
                                i.            It rained all night.
                              ii.            I  speak in English.
                            iii.            I went to jogja.
                            iv.            He kicks the ball.
                              v.            She sings a song.
Examples :
                                i.            I bought a new guitar.
                              ii.            I make a cake.
                            iii.            He writes a letter.
                            iv.            She reads a magazine.
                              v.            My mother cooks a pizza.
A stative verb (such as be, have, know, like, own, and seem) describes a state, situation, or condition.
Examples :
                                i.            Now, I own a Gibson Explorer.
                              ii.            I know tour secret.
                            iii.            It look like a horse.
                            iv.            It is can seem.
                              v.            She is can be seen.

Examples :
                                 i.            She walked to school.
                               ii.            He painted a wall.
                              iii.            He watered a flower.
                             iv.            He played football.
                               v.            She played tennis.

A nonfinite verb (an
infinitive or participle) doesn't show a distinction in tense and can occur on its own only in a dependent phrase or clause.
Examples :
                                i.            While walking to school, she spotted a bluejay.
                              ii.            He’s repaired that broken clock.
                            iii.            David loves to play the piano.
                            iv.            Written in 1864, it soon became a classic.
                              v.            Leave immediately when you are asked to do so.


                                i.            We finished the project.
                              ii.            She kissed the flower.
                            iii.            He kicked this ball.
                            iv.            My sister climbed the tree.
                              v.            He walked alone.
An irregular verb (also known as a strong verb) doesn't form the past tense by adding -d or -ed: "Gus ate the wrapper on his candy bar." (See Introduction to Irregular Verbs in English.)
Examples :
                                i.            She made a cake.
                              ii.            I bought a new pen
                            iii.            I went to jogja.
                            iv.            They begun to write the letter
                              v.            I saw a nice view.

                                i.            He plays football.
                              ii.            She writes a letter.
                            iii.            We make a big cake.
                            iv.            She reads a magazine.
                              v.            He takes this place.
An intransitive verb doesn't take a direct object.
Examples :
                                i.            Lita cries.
                              ii.            She runs.
                            iii.            We walk together.
                            iv.            He sleeps in my room.
                              v.            She sits in my chair.